Pages

Banner 468 x 60px

 

Jumat, 04 Juli 2014

0 komentar
Tugas Kelompok 5 PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN (Dalam Mata Kuliah Media Pembelajaran PAI) DI SUSUN OLEH : Semester : III Kelas F Jurusan : Pendidikan Agama Islam 1) Apriliyanti 1211010271 2) Iin Indriani 1211010048 DOSEN : Drs. Risgiyanto, M.Pd FAKULTAS TARBIYAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG T.A. 2012 / 2013


KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb Alhamdulillahirobbil’alamin,puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT. karena dengan rahmat dan inayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini, dalam mata kuliah Media Pembelajaran PAI dengan materi yang kami angkat adalah tentang “Pemanfaatan dan Penggunaan Media Pembelajaran”
Makalah ini kami susun dengan merefrensi buku-buku, dengan maksud dapat menambah wawasan untuk penulis maupun pembaca, semoga makalah ini bisa memberikan manfaat untuk kita semua.Aamiin ya robbal ‘alamiin. Kami menyadari betapa banyak nya kekurangan dan kesalahan yang melekat pada penyusunan ini kami meminta maaf, untuk itu kami sangat menerima kritik dan saran saudara-saudara agar dapat membangun motivasi kepada kami ke jalan yang lebih baik. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “tak ada gading yang tak retak”.
Akhir kata terimakasih kepada Dosen pembimbing yang telah memberikan kami kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Bandar Lampung, 2013
Penulis


Daftar Isi Kata Pengantar i Daftar Isi ii BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang Masalah 1 B. Rumusan Masalah 1 BAB II PEMBAHASAN ( Pemanfaatan dan Penggunaan Media Pembelajaran ) 2 A. Pengertian Media Pembelajaran 2 B. Pemanfataan Media Pembelajaran 3 C. Penggunaan Media Pembelajaran 8 D. Prinsip-prinsip Penggunaan Media Pembelajaran 9 BAB III PENUTUP 13 A. Kesimpulan 13 B. Saran 14 Daftar Pustaka iii



BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam rangka meningkatkan kualitas, proses dan hasil belajar siswa di setiap jenjang dan tingkat pendidikan, perlu dilakukan upaya inovatif oleh para guru dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pendidik. Terdapat banyak cara dan upaya yang dapat dilakukan oleh para pendidik dalam mewujudkan tujuan instruksional pendidikan, salah satunya adalah penggunaan media pembelajaran.
Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru / fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru / fasilitator perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Penggunaan media pembelajaran dapat mempertinggi kualitas proses belajar dan mengajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa. Media pembelajaran mempuanyai kegunaan dan manfaat yang banyak, salah satunya adalah dalam proses pembelajaran, media dapat menjadi pembangkit keinginan, minat dan motivasi bagi para peserta didik untuk belajar.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah pengertian media pembelajaran ? 2. Bagaimana pemanfaatan media pembelajaran ? 3. Bagaimana penggunaan media dalam proses pembelajaran ? 4. Persiapan apa yang harus disiapkan oleh seorang guru dalam menggunakan media pembelajaran ?

BAB II PEMBAHASAN
PEMANFAATAN DAN PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN
A. Pengertian Media Pembelajaran
Kata “media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium”, yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Dengan demikian media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Bila media adalah sumber belajar maka secara luas media dapat diartikan sebagai manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memproleh pengetahuan dan keterampilan. Maka dapat diambil pengertian bahwa media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran.
Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar melakukan kegiatan pengajarannya secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatunya guna kepentingan pengajaran.
Hamalik mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, serta membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu.


B. Pemanfaatan Media Pembelajaran
Penggunaan media pembelajaran oleh guru tidak harus mutlak diadakan jika memang kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan. Namun akan lebih baik jika digunakan media pembelajaran karena media pembelajaran tentu mempunyai kelebihan-kelebihan yang dapat dimanfaatkan membantu keberhasilan pembelajaran.
Ada beberapa pola pemanfaatan media pembelajaran. Berikut ini pola-pola pemanfaatan media pembelajaran yang dapat dilakukan antara lain :
1. Pemanfaatan media dalam situasi kelas (classroom setting)
Dalam tatanan (setting) ini, media pembelajaran dimanfaatkan untuk menunjang tercapainya tujuan tertentu. Pemanfaatannya pun dipadukan dengan proses belajar mengajar dalam situasi kelas.
Dalam merencanakan pemanfaatan media itu guru harus melihat tujuan yang akan dicapai, materi pembelajaran yang mendukung tercapainya tujuan itu, serta strategi belajar mengajar yang sesuai untuk mencapai tujuan itu. Media pembelajaran yang dipilih haruslah sesuai dengan ketiga hal itu, yang meliputi tujuan, materi, dan strategi pembelajarannya.
2. Pemanfaatan media di luar situasi kelas
Pemanfaatan media pembelajaran di luar situasi dapat dibedakan dalam dua kelompok utama: a. Pemanfaatan media secara bebas
Pemanfaatan media secara bebas ialah bahwa media itu digunakan tanpa di kontrol atau diawasi. Pemakai media menggunakan media menurut kebutuhan masing - masing. Biasnya pemakai media menggunakannya secara perorangan. Dalam menggunakan media ini pemakai tidak dituntut untuk mencapai tingkat pemahaman tertentu.
b. Pemanfaatan media secara terkontrol.
Pemanfaatan media secara terkontrol adalah bahwa media itu digunakan dalam suatu rangkaian kegiatan yang diatur secara sistematis untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam pemanfaatan media ini peserta didik harus diorganisasikan dengan baik terlebih dahulu.
3. Pemanfaatan media secara perorangan, kelompok atau massal
Media dapat digunakan secara perorangan. Artinya, media itu digunakan oleh orang saja. Banyak media yang memang dirancang untuk digunakan secara perorangna. Media seperti ini biasanya dilengkapi dengan petunjuk pemanfaatan yang jelas sehingga orang dapat menggunakannya dengan mandiri. Apabila di dalam suatu ruangan ada beberapa orang yang belajar menggunakan media secara perorangan sebaiknya masing-masing menempati karel sehinnga tidak saling menggangu. Karel adalah meja belajar yang disekat-sekat menjadi bagian kecil yang hanya cukup untuk duduk seorang. Tiap karel dilengkapi dengan perlengkapan media, seperti tape recorder, proyek-proyek film bingkai, earphone, layar kecil dan sebagainya.
Media dapat digunakan secara berkelompok. Kelompok itu dapat berupa kelompok kecil dengan anggota 2 s/d 8 orang. Atau berupa kelompok besar yang beranggotakan 9 s/d 40 orang. Media yang dirancang untuk digunakan secara berkelompok juga memerlukan buku petunjuk. Buku petunjuk ini biasanya ditujukan kepada pemimpin kelompok, tutor atau guru. Keuntungan belajar menggunakan media secara berkelompok adalah bahwa kelompok itu dapat melakukan diskusi tentang bahan yang sedang dipelajari.
Biasanya sasaran didik diatur dalam kelompok-kelompok belajar. Setiap kelompok diketuai oleh pemimpin kelompok dan disupervisi oleh seorang tutor. Sebelum memanfaatkan media, tujuan pembelajaran yang akan dicapai dibahas atau ditentukan terlebih dahulu. Media yang digunakan dalam pembelajaran meliputi media berbasis manusia, media berbasis cetakan, media berbasis visual, media audio, media bebasis audio-visual, media berbasis computer, media lingkungan.
Berikut beberapa manfaat media pembelajaran menurut ahli, diantaranya adalah :
1. Kemp dan Dayton 1) Penyampaian pelajaran menjadi lebih baku. 2) Pengajaran bisa menjadi lebih menarik. Media dapat diasosiasikan sebagai penarik perhatian dan membuat siswa tetap terjaga dan memperhatikan. 3) Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima. 4) Lama waktu pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat 5) Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan bilamana integrasi kata dan gambar sebagai media pengajaran dapat mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik, spesifik, dan jelas. 6) Pengajaran dapat diberikan dimana dan kapanpun jika diperlukan, terutama untuk media yang dirancang untuk individu. 7) Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap proses pembelajaran itu sendiri. 8) Peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif 2. Dale Bahan-bahan audio-visual dapat memberikan banyak manfaat asalakan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran.hubunngan guru-siswa tetap merupak elemen paling penting dalam system pendidikan. Guru harus selalu hadir untuk menyajikan meteri pelajaran dengan bantuan media apa saja agar manfaat berikut inni dapat terealisasi : 1) Meninngkatkan rasa saling pengertian dan simpati dalam kelas 2) Menumbuhkan perubahan signifikan terhadap tingkah laku siswa 3) Menunjukkan hubungan antara mata pelajaran dan kebutuhan dan minat siswa dengan meningkatnya motivasi belajar siswa 4) Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa 5) Membuat hasil belajar lebih bermakna bagi berbagai kemampuan siswa 6) Mendorong pemanfaatan yang bernakna dari mata pelajaran dengan jalan melibatkan imajinasi dan partisipasi aktif yang mengakibatkan meningkatnya hasil belajar 7) Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak telah mereka pelajari 8) Melengkapi pengalaman yang kaya dengan pengalaman itu konsep-konsep yang bermakna dapat dikembangkan 9) Memperluas wawasan dan pengalaman siswa yang mencerminkan pembelajaran nonverbalistik dan membuat generalisasi yang tepat 10) Meyakinkan diri bahwa urutan dan kejelasan pikiran yang siswa butuhkan jika mereka membangun struktur konsep dan system gagasan yang bermakna 3. Sudjana dan Rivai 1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar 2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pengajaran 3) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga 4) Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan dan lain-lain 4. Encyclopedia of educational 1) Meletakkan dasar-dasar yang kongkret untuk berfikir, oleh karena itu mengurangi verbalisme 2) Memperbesar perhatian siswa 3) Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap 4) Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan siswa 5) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu 6) Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa 7) Memberikan pengalaman yang tidak mudah diproleh dengan cara lain, membantu efisienssi dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar . Dari uraian dan pendapat beberapa ahli di atas, dapatlah disimpulkan beberapa manfaat praktis dari penggunaan media pengajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut : 1. Media pengajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses serta hasil belajar 2. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dengan lingkungannya, dan berkemungkinan siswa dapat belajar secara individu sesuai dengan kemampuan dan minatnya 3. Memberikan pengalaman nyata dan langsung karena siswa dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan tempat belajarnya 4. Mempelajari materi pembelajaran secara berulang-ulang 5. Memungkinkan adanya persamaan pendapat dan persepsi yang benar terhadap suatu materi pembelajaran atau obyek 6. Materi pembelajaran lebih lama diingat dan mudah untuk diungkapkan kembali dengan cepat dan tepat 7. Mempermudah dan mempercepat guru menyajikan materi pembelajaran dalam proses pembelajaran 8. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan indera C. Penggunaan Media Pembelajaran Sebelum menggunakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran, terlebih dahulu guru sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut ini : a. Guru mencoba media pembelajaran, sehingga akan diketahui apakah masih berfungsi atau tidak. Jika tidak berfungsi maka guru akan memperbaikinya terlebih dahulu. b. Memperhatikan silabus atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), terutama berkaitan dengan metode pembelajaran yang akan disampaikan dan organisasi kelas, sehingga diketahui apakah media pembelajaran itu untuk individual, kelompok, atau klasikal. c. Menyiapkan dan menentukan media pembelajaran yang akan dipakai sesuai dengan kebutuhan. d. Memberikan bimbingan dan pengawasan selama penggunaan media pembelajaran tersebut oleh siswa agar berfungsi sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Selama proses pembelajaran ini pun, guru perlu memperhatikan kebersihan dan keamanan siswa dalam menggunakan media pembelajaran tersebut. e. Setelah proses pembelajaran berakhir, maka siswa dilatih untuk bertanggung jawab dengan memeriksa kelengkapan media pembelajaran tersebut agar seperti sedia kalanya dan menyimpannya pada tempat yang telah ditentukan. D. Prinsip-prinsip Penggunaan Media Pembelajaran Menggunakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal berikut : 1. Sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran yang tercantum dalam kurikulum yang berlaku di sekolah. 2. Memberikan pengertian dan penjelasan tentang suatu konsep. 3. Mendorong kreativitas siswa, dan memberikan kesempatan siswa untuk bereksperimen dan bereksplorasi. 4. Memenuhi unsur kebenaran dalam ukuran, ketelitian, dan kejelasan. 5. Media harus aman dan tidak membahayakan siswa dan guru. 6. Media pembelajaran menarik, menyenangkan, dan tidak membosankan bagi siswa untuk menggunakannya. 7. Memenuhi unsur keindahan dalam bentuk, warna dan kombinasinya, serta rapi pembuatannya 8. Mudah digunakan oleh siapa pun 9. Penggunaan media pembelajaran tidak sekaligus dipertunjukkan kepada siswa. 10. Media pembelajaran yang digunakan merupakan bagian dari materi pembelajaran yang sedang dijelaskan bukan sebagai selingan atau alat hiburan. 11. Siswa mempunyai tanggung jawab didalam menggunakan media pembelajaran. 12. Media pembelajaran sebaiknya lebih banyak mengandung pesan positif, dari pada negatifnya. Pada dasarnya media pembelajaran sangat diperlukan dalam upaya mengaktifkan kegiatan belajar siswa. Namun bukan berarti media pembelajaran tersebut harus canggih dan mahal. Untuk itu diperlukan kreatifitas guru dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia disekolah tersebut. Disamping itu juga, jika media pembelajaran perlu ada, guru pun dapat bekerja sama dengan siswa untuk pengadaannya, dengan memanfaatkan bahan-bahan yang sederhana yang tersedia atau dapat dengan mudah didapatkan. Penggunaan media pembelajaran, untuk membantu kegiatan belajar seharusnya disesuaikan dengan isi atau materi pembelajaran dan tujuan yang hendak dicapai. Disamping kesesuaian tersebut, faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah : 1) Waktu yang tersedia dan yang dibutuhkan untuk belajar menggunakan media pembelajaran tersebut. 2) Kecakapan guru maupun siswa menggunakan media pembelajaran. 3) Dana yang tersedia untuk pengadaan media pembelajaran yang diperlukan. Kegagalan seorang guru dalam mengembangkan media pengajaran akan terjadi jika penguasaan terhadap karakteristik media itu sendiri sangat kurang. Tetapi dengan begitu, penggunaan media pembelajaran juga tidak asal-asalan menurut keinginan guru, tidak berencana, dan tidak sistematik. Guru harus menggunakannya sesuai dengan langkah-langkah yang telah ada. Ada enam langkah yang bisa ditempuh guru pada waktu ia mengajar dengan menggunakan media. Langkah-langkah itu adalah : 1. Merumuskan tujuan pengajaran dengaan menggunakan media 2. Persiapan guru. 3. Persiapan kelas 4. Langkah penyajian pelajaran dan penggunaan media 5. Langkah kegiatan belajar siswa 6. Langkah evaluasi Manfaat penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar, terutama untuk ingkat SD, sangat penting. Sebab pada masa ini siswa masih berfikir konkret, belum mampu berfikir abstrak. Kehadiran media sangat membantu mereka dalam memahami konsep tertentu, yang tidak atau kurang mampu dijelaskan oleh guru dengan bahasa. Ketidakmampuan guru menjelaskan sesuatu bahan itulah dapat diwakili oleh peran media. Disini nilai praktis media dapat terlihat, yang bermanfaat bagi siswa dan guru. Menurut Nana Sudjana dan Sudirman N terdapat 10 nilai-nilai praktis pada media pembelajaran. Heinich, Malenda, Russel, dan Ilda Prayitno mengemukakan keuntungan penggunaan media dalam pembelajaran adalah: 1) Membangkitakan ide-ide atau gagasan-gagasan yang bersifat konseptual, sehingga mengurang kesalahpahaman siswa dalam mempelajarinya. 2) Meningkatkan minat siswa untuk materi pelajaran. 3) Memberikan pengalaman-pengalaman nyata yang merangsang aktivitas diri sendiri untuk belajar. 4) Dapat mengembangkan jalan pikiran yang berkelanjutan. 5) Menyediakan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah didapat melalui materi-materi yang lain dan menjadikan proses belajar mendalam dan beragam.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Dari pembahasan diatas dapat kami simpulkan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Sedangkan pembelajaran adalah usaha guru untuk menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan informasi dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa dan pada akhirnya dapat menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar.
Manfaat media pembelajaran tersebut adalah: penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan, proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, efisiensi dalam waktu dan tenaga, meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar serta mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif. Jika guru memanfaatkan berbagai media pembelajaran secara baik, guru dapat berbagi peran dengan media. Peran guru akan lebih mengarah sebagai manajer pembelajaran dan bertanggung jawab menciptakan kondisi sedemikian rupa agar siswa dapat belajar. Untuk itu guru lebih berfungsi sebagai penasehat, pembimbing, motivator dan fasilitator dalam Kegiatan Belajar mengajar. Tujuan penggunaan media adalah efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar, meningkatkan motivasi belajar siswa, variasi metode pembelajaran, dan peningkatan aktivasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
B. Saran
Demikian pembahasan mengenai penggunaan dan pemanfaatan media dalam proses pembelajaran. Untuk dapat merasakan manfaatnya, guru dapat mempergunakan dan mengembangkannya dalam proses belajar mengajar, baik dikelas maupun diluar kelas.
Media yang dapat dimanfaatkan oleh guru adalah media yang sesuai dengan misi tujuan. Cara memanfaatkan media tergantung dari jenis dan karakteristik suatu media. Misalnya cara kerja media visual berbeda dengan cara kerja audiovisual. Cara pemakaiannya tidak harus guru yang melakukannya, tetapi bisa juga siswa selama itu bisa mencapai tujuan dari pembelajaran tersebut. Oleh karen itu, guru harus benar-benar menguasai penggunaan dan pemanfaatan media pembelajaran.
Read more...

Kamis, 22 Mei 2014

0 komentar
Evaluasi Pendidikan
Tugas Kelompok IX PORTOFOLIO DAN PENILAIANNYA (Dalam Mata Kuliah Evaluasi Pendidikan) DI SUSUN OLEH : 1) Iin Indriani 1211010048 2) Siti Rosmianti 1211010097 Jurusan : Pendidikan Agama Islam Semester : IV Kelas: G DOSEN : Rijal Firdaos, M.pd.I INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN T.A. 2014/1435 H KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr.Wb Alhamdulillahirobbil’alamin,puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT. karena dengan rahmat dan inayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini, dalam mata kuliah Evaluasi Pendidikan dengan materi yang kami angkat adalah tentang “Portofolio dan Penilaiannya” Makalah ini kami susun dengan merefrensi buku-buku, dengan maksud dapat menambah wawasan untuk penulis maupun pembaca, semoga makalah ini bisa memberikan manfaat untuk kita semua.Aamiin ya robbal ‘alamiin. Kami menyadari betapa banyak nya kekurangan dan kesalahan yang melekat pada penyusunan ini kami meminta maaf, untuk itu kami sangat menerima kritik dan saran saudara-saudara agar dapat membangun motivasi kepada kami ke jalan yang lebih baik. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “tak ada gading yang tak retak”. Akhir kata terimakasih kepada Dosen pembimbing yang telah memberikan kami kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Wassalamu’alaikum Wr.Wb Bandar Lampung, Maret,2014 Penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.......................................................................... i DAFTAR ISI......................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah.......................................................................... 1 B. Rumusan Masalah................................................................................... 2 C. Tujuan...................................................................................................... 2 BAB II PEMBAHASAN PORTOFOLIO DAN PENILAIANNYA 3 A. Pengertian Portofolio dan Penilaian Portofolio....................................... 3 B. Bagian-bagian Portofolio........................................................................ 5 C. Bahan-bahan Portofolio.......................................................................... 6 D. Pengumpulan Portofolio.......................................................................... 8 E. Prinsip-prinsip Dokumentasi Portofolio.................................................. 9 F. Bentuk portofolio.................................................................................. 11 BAB III PENUTUP.......................................................................... 13 A. Kesimpulan............................................................................................ 13 B. Saran...................................................................................................... 14 DAFTAR PUSTAKA.......................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Banyak bentuk penilaian yang dapat digunakan untuk memberikan penilaian kepada peserta didik, diantaranya adalah penilaian portofolio. Penilaian portofolio merupakan salah satu pendekatan dalam penilaian pembelajaran di sekolah, di samping alat penilaian yang selama ini digunakan, terutama tes. Penilaian portofolio tidak menggunakan data kuantitatif dalam bentuk angka-angka. Penilaian portofolio disebut juga penilaian alternatif (alternative asessment). Dengan penilaian portofolio dapat diamati perbedaan kemampuan setiap anak dalam melaksanakan tugas sekolah dari waktu ke waktu. Penilaian ini lebih kepada perubahan sikap dan tingkah laku peserta didik. Penilaian ini juga lebih mengacu kepada perkembangan dan kemajuan peserta didik. Penilaian portofolio ini masih terdengar asing oleh kebanyakan orang, oleh sebab itu kami disini akan membahas tentang penilaian portofolio secara terperinci untuk dijadikan sebagai acuan dalam penilaian sikap peserta didik dan menambah wawasan untuk kita mengenai salah satu bentuk penilaian yaitu portofolio seperti di bawah ini. B. Rumusan Masalah 1. Apakah pengertian portofolio dan penilaian portofolio ? 2. Apasajakah bagiaan-dari portofolio ? 3. Bahan-bahan apasaja yang dapat dijadikan sebagai portofolio ? 4. Bagaimana cara pengumpulan portofolio ? 5. Apa sajakah prinsip-prinsip dokumentasi portofolio ? 6. Bagaimana bentuk-bentuk portofolio ? C. Tujuan 1. Dapat mengetahuai pengertian portofolio dan penilaian portofolio 2. Dapat mengetahui apa saja bagian-bagian dari portofolio 3. Dapat mengetahui bahan-bahan yang dapat dijadikan sebagai bahan portofolio 4. Dapat mengetahui cara pengumpulan portofolio 5. Dapat mengetahui prinsip-prinsip dokumentasi portofolio 6. Dapat mengetahui bentuk-bentuk portofolio. BAB II PEMBAHASAN PORTOFOLIO DAN PENILAIANNYA A. Pengertian Portifolio dan penilaian portofolio Secara etimologi, portofolio berasal dari dua kata, yaitu port (singkatan dari report) yang berarti laporan dan folio yang berarti penuh atau lengkap. Portofolio berasal dari bahasa Inggris yakni “Portfolio” yang artinya dokumen atau surat-surat. Dapat juga diartikan sebagai kumpulan kertas-kertas berharga dari suatu pekerjaan tertentu. Pengertian portofolio disini adalah suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan. Panduan-panduan ini beragam tergantung pada mata pelajaran atau tujuan penilaian portofolio.[1] Yang dimaksud dengan portofolio adalah semua benda yang berbentuk bukti fisik sebagai sesuatu yang menunjukkan hasil kinerja peserta didik. Portofolio dapat berbentuk kertas ulangan harian, kertas ulangan semesteran, buku pekerjaan rumah, buku pekerjaan sekolah, dan bentuk-bentuk lain yang dapat memuat coretan, atau grafis sebagai bukti kinerja siswa.[2] Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan murid dalam satu periode tertentu. Informasi perkembangan murid tersebut dapat berupa karya murid (hasil pekerjaan) dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh muridnya, hasil tes (bukan nilai), piagam penghargaan atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan murid sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan murid dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemampuan belajar murid melalui karya murid, antara lain karangan puisi, surat, komposisi dan music.[3] Pengertian portofolio menurut beberapa ahli, diantaranya adalah : Popham Portofolio adalah sekumpulan sistematik tentang pekerjaan seseorang. Dalam hal ini seseorang tersebut adalah peserta didik. Genesee dan Upshur Potofolio adalah sekumpulan pekerjaan peserta didik yang menunjukkan kepada mereka atas usaha, kemajuan dan pencapaian mereka dalam mata pelajran tertentu. Woolfolk Portofolio adalah a collection of the student’s work in area, showing growth, self reflection, and achievement. Oermrod Portofolios is a systematic collection of student’s work over a lengthy period. Penilaian portofolio merupakan kumpulan sistematik karya siswa untuk menunjukkan kemajuan belajar siswa dari waktu ke waktu. Karya yang dimasukkan ke dalam portofolio meliputi contoh-contoh tulisan, bacaan, gambar-gambar, rekaman audio atau video sebagai karya siswa,baik yang dipilih sendiri oleh siswa maupun oleh siswa bersama guru. Portofolio dimaksudkan untuk merepresentasikan kegiatan belajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Salah satu ciri penting portofolio adalah keterlibatan siswa dalam memilih contoh karya yang dihasilkan untuk menunjukkan perkembangan belajar dari waktu ke waktu.[4] Bagian-Bagian Portofolio Portofolio pada umumnya terdiri dari beberapa bagian seperti berikut : Daftar isi dokumen Pada halaman depan bendel portofolio tertulis nama peseta didik yang bersangkutan, daftar evidence (objek penilaian). Isi dokumen Isi portofolio terkadang dinamakan sebagai evidence atau dokumen yang dapat berupa kumpulan atau tugas yang berisi pekerjaan peserta didik (foto, video, audio, penilaian tertulis, penugasan, hasil karya praktek, catatan, disket, atau fotocopy) selama waktu tertentu yang dapat memberikan informasi bagi suatu penilaian kinerja yang objektif, yang menunjukkan apa yang dapat dilakukan seseorang dalam lingkungan dan suasana kerja yang alamiah, bukan dalam lingkungan dan suasana kerja yang dibuat-buat. Hasil kerja peserta didik menjadi ukuran seberapa baik tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik telah dilaksanakan sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator pencapaian hasil belajar yang terdapat dalam kurikulum. Sumber data dari portofolio dapat berupa orang tua, tenaga pendidik atau masyarakat yang mengetahui program pendidikan. Bendel dokumen Kumpulan semua dokumen peserta didik baik evidence, worksheet, maupun lembaran-lembaran informasi dan lembaran kerja yang dipakai dalam kegiatan pembelajaran dimasukkan kedalam bendel dokumen portofolio. Dokumen-dokumen tersebut ditempatkan dalam satu map atau folder. Batasan dokumen Dokumen-dokumen portofolio perlu dikelompokkan sehingga mudah untuk mendapatkannya bila diperlukan. Agar kelompok dokumen mudah diorganisir maka perlu diberi pembatas misalnya dengan kertas berwarna. Batasan tersebut sangat berguna untuk memisahkan antara dokumen kelompok satu dengan yang lain. Catatan guru dan orang tua Pada setiap dokumen yang relevan harus terdapat catatan, komentar atau nilai dari guru dan tanggapan orang tua. Akan lebih lagi jika terdapat catatan atau tanggapan peserta didik yang bersangkutan. Catatan guru dan orang tua dapat langsung dituliskan pada dokumen yang sudah ada, atau ditulis secara terpisah pada kertas kecil yang ditempelkan atau disatukan pada dokumen.[5] Bahan-bahan Portofolio Tidak semua bahan (evidence) dimasukkan sebagai bahan portofolio. Biasanya, portofolio hanya memuat evidence yang dianggap dapat mewakili dan menggambarkan suatu perkembangan serta perubahan yang terjadi. Oleh sebab itu sebelum ditentukan evidence yang dianggap dapat dimasukkan ke dalam portofolio, perlu dilakukan pengamatan terlebih dahulu. Sebaiknya, pengamatan dan penentuan evidence dilakukan oleh guru dan peserta didik secara bersama-sama. Peserta didik diminta berbagai pertimbangan serta alasan evidence yang harus dimasukkan. Terdapat beberapa pertimbangan yang haarus diperhatikan dalam melilih dan menentukan bahan portofolio, diantaranya adalah : 1. Evidence yang dapat mewakili gambaran kemampuan peserta didik yang sesungguhnya. 2. Evidence dipilih karena dapat menggambarkan perkembangan perubahan dan kemampuan peserta didik dari awal sampai akhir. 3. Evidence dipilih karena keterkesanan peserta didik akan karya yang yang dihasilkannya. 4. Evidence dipilih karena pertimbangan kesesuaiannya dengan kompetensi yang harus dicapai sesuai kurikulum. 5. Evidence dipilih karena dilihat dari segi kepraktisannya dan artistic portofolio.[6] Yang dapat dijadikan bahan portofolio di sekolah antara lain : a. Hasil proyek, penyelidikan, atau praktik yang disajikan secara tertulis b. Gambar atau laporan hasil pengamatan c. Deskripsi dan diagram pemecahan suatu masalah d. Laporan hasil penyelidikan tentang hubungan antara konsep-konsep e. Penyelesaian soal-soal terbuka f. Hasil tugas pekerjaan rumah yang khas g. Laporan kerja kelompok h. Hasil kerja peserta didik yang diproleh dengan menggunakan alat rekam video, alat rekam audio, dan computer i. Fotokopi surat piagam atau penghargaan j. Hasil karya dalam mata pelajaran peserta didik yang tidak ditugaskan oleh guru k. Cerita tentang senang atau tidaknya peserta didik terhadap mata pelajaran yang bersangkutan l. Cerita tentang usaha peserta didik sendiri dalam mengatasi hambatan psikologis, atau usaha peningkatan diri m. Laporan tentang sikap peserta didik terhadap pelajaran.[7] n. Penghargaan lisan o. Catatan dari pihak lain yang relevan, antara lain dari teman atau orang tua p. Hasil rekapitulasi daftar kehadiran q. Hasil ulangan harian atau semester r. Catatan pribadi s. Catatan tentang peringatan yang diberikan guru manakala peserta didik melakukan kesalahan t. Disket[8] Pengumpulan Portofolio Setelah ditentukan dan dipastikan bahwa setiap peserta didik telah membuat dan memilih berkas portofolio, selanjutnya perlu ditentukan cara mengumpulkan dan menyusunnya dalam berkas portofolio yang telah disediakan, kemudian menentukan dimana dan bagaimana menyimpannya. Berkas untuk portofolio dapat berbentuk folder atau bentuk lainnya yang dapat disimpan di lemari atau rak. Waktu pengumpulan bahan perlu juga ditentukan dengan jelas, kapan mulai, dan kapan berakhirnya. Sepanjang waktu tersebut, peserta didik diminta untuk mengumpulkan bahan yang dapat diperolehnya secara terus-menerus. Hal ini penting supaya setiap perkembangan yang dicapai peserta didik dari waktu ke waktu dapat teramati dengan baik.[9] Prinsip-prinsip Dokumentasi Porofolio Dalam mengoleksi evidence sebagai hasil belajar peserta didik yang akan dimasukkan kedalam bendel portofolio peserta didik perlu diperhatikan beberapa prinsip sebagai berikut : Akurasi Data Evidence yang dimasukkan ke dalam bendel portofolio peserta didik harus merupakan evidence peserta didik yang bersangkutan pada waktu yang bersesuaian. Maksudnya, bahwa potrofolio setiap peserta didik adalah kumpulan dokumen peserta didik pada satu pelajaran yang sedang berlangsung. Ketepatan Waktu Evidence yang antara lain berupa lembar kerja, hasil kerja, karya tulis peserta didik dimasukkan ke dalam bendel portofolio segera setelah mendapatkan catatan, penilaian, atau komentar dari guru. Kelengkapan Informasi Portofolio merupakan dokumen evidence peserta didik yang lengkap mulai dari apa yang dipelajari apa yang pernah dikerjakan, berikut lembar kerja dan hasil-hasil pekerjaannya. Dengan demikian, dalam portofolio semua kegiatan peserta didik yang berkaiatan dengan proses belajar dan perkembangan hasil belajarnya dapat dilihat secara lengkap. Keterbacaan Dokumen Setiap dokumen portofolio harus dalam keadaan yang jelas terbaca. Sehingga setiap saat diperlukan dapat segera diperoleh informasi. Selain itu harus dipilih yang tahan lama dan tidak mudah rusak. Kepraktisan Dokumen Dokumen harus dipilih yang ukurannya praktis dan bisa dimasukkan ke dalam bendel. Perencanaan Portofolio harus mencakup dokumen seluruh waktu yang dilewati, sehingga diperlukan suatu perencanaan agar tidak terjadi kelebihan atau kekurangan dokumen. Perencanaan portofolio dikaitkan dengan program tahunan, program semester, ataupun program caturwulan. Penataan Dokumen Dokumen portofolio untuk setiap peserta didik bisa berjumlah cukup banyak, sehingga perlu ada penataan agar dokumen tersebut tertata rapi dan tidak rusak. Penataan dokumen dilakukan dengan pemisahan berdasarkan jenis dokumennya, misalnya berdasarkan mata pelajaran, atau cara pengerjaannya. Pengadministrasian Dokumen Setiap hasil pekerjaan peserta didik yang bersifat penilaian baik yang memiliki dokumen fisik, ataupun tidak, harus dicatat dalam buku catatan harian peserta didik atau daftar nilai peserta didik. Dengan demikian tidaklah cukup hanya mengumpulkan dokumen-dokumen pembelajaran ke dalam portofolio, tetapi harus juga mencatatnya sebelum dimasukkan ke dalam bendel portofolio.[10] Penilaian proses dan hasil Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar yang dinilai misalnya diproleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya peserta didik. Perinsip penilaian berkala dan berkelanjutan. Dalam menilai hasil misalnya, secara berkala setiap selesai satu kompetensi dasar diadakan ulangan harian atau formatif. Kemudian hasil ulangan harian peserta didik dalam beberapa kali atau satu semester bisa dijadikan sebagai portofolio dan dianalisis bagaimana perkembangan ulangan hariannya. Sedangkan perinsip penilaian berkelanjutan terlihat dari adanya kontinuitas penilaian, baik penilaian hasil atau maupun proses tidak ada yang boleh terputus. Dengan prinsip penilaian portofolio yang berkala dan berkelanjutan maka informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan hasil belajar peserta didik dapat terpantau. Prinsip penilaian yang adil Dalam melakukan penilaian portofolio harus memegang prinsip keadilan. Artinya penilaian portofolio itu tidak boleh diskriminatif terhadap peserta didik. Setiap peserta didik memiliki kesempatan yang sama dalam mendokumentasikan dan memaparkan kumpulan portofolionya.[11] Bentuk portofolio Pada hakikatnya, penilaian (Assessment) portofolio dapat dibedakan menjadi dua bentuk yaitu, tinjauan proses (process oriented) dan tinjauan hasil (product oriented). Portofolio tinjauan proses (process oriented) adalah jenis portofolio yang menekankan pada tinjauan cara perkembangan peserta didik dapat diamati dan dinilai dari waktu ke waktu. Pendekatan ini lebih menekankan pada cara peserta didik belajar, berkreasi, termasuk mulai dari draf awal, proses awal terjadi, dan waktu sepanjang peserta didik dinilai. Hal yang dinilai mencakup kemampuan awal, proses, dan akhir suatu pekerjaan yang dilakukan oleh peserta didik. Portofolio ditinjau dari hasil (product oriented) adalah jenis portofolio yang menekankan pada tinjauan hasil terbaik yang telah dilakukan peserta didik tanpa memperhatikan proses untuk mencapai evidence itu terjadi. Portofolio semacam ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan merefleksikan kualitas prestasi yang telah dicapai. Contoh dari portofolio hasil ini ada dua yaitu portofolio tampilan (show prtofolios) dan portofolio dokumentasi (documentary portofolios).[12] Portofolio tampilan (show prtofolios) digunakan untuk memajangkan karya terbaik peserta didik kepada orang tua dan tatausaha sekolah. Beberapa sekolah secara khusu mengadakan acara “Pameran Portofolio” yang berisis karya-karya terbaik peserta didik. Keterbatasan portofolio ini adalah hanya memeprlihatkan karya terbaik peserta didik, serta mengabaikan karya lainnya. Portofolio jenis ini cenderung mengoleksi produk akhir peserta didik. Hal itu berarti tidak memberikan gambaran yang utuh dari waktu ke waktu.[13] Portofolio dokumentasi (documentary portofolios) adalah bentuk yang digunakan untuk koleksi evidence peserta didik yang khusus digunakan untuk penilaian dalam portofolio dokumentasi. Portofolio ini tidak hanya berisi hasil akhir karya peserta didik, tetapi juga berbagai macam draf dan komentar peserta didik terhadap karyanya tersebut.[14] Tidak seperti portofolio kerja, dimana koleksi dilakukan dari hari ke hari, dalam portofolio dokumentasi hanya evidence peserta didik yang terbaik yang diseleksi dan yang akan diajukan dalam penilaian.[15] BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa, portofolio adalah kumpulan dokumen berupa objek penilaian yang dipakai, yang bertujuan untuk mendokumentasikan dan mengevaluasi perkembangan suatu proses dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Portofolio merupakan kumpulan (koleksi) pekerjaan siswa terbaik atau karya siswa yang paling berarti sebagai hasil kegiatan belajarnya pada suatu bidang (mata pelajaran) tertentu. Koleksi pekerjaan siswa tersebut didokumentasikan secara baik dan teratur sehingga dapat mewakili suatu sejarah belajar dan demonstrasi pencapaian sesuatu secara terorganisasi. Sedangkan penilaian portofolio adalah merupakan penilaian terhadap kumpulan hasil karya siswa yang sengaja digunakan sebagai bukti prestasi siswa, perkembangan siswa itu dalam kompetensi berfikir, pemahaman siswa itu terhadap materi pelajaran, kompetensi siswa itu dalam mengungkapkan gagasan dan mengungkapkan sikap siswa terhadap mata pelajaran tertentu. Jadi dapat disimpulkan bahwa antara portofolio dengan penilaian portofolio sangat berbeda, secara umum, portofolio adalah proses pengumpulan karya-karya peserta didik (dokumentasi), sedangkan penilaian portofolio adalah penilaian terhadap dokumentasi yang telah dikumpulkan menurut waktu,jenis, dan criteria tertentu. Di dalam portofolio yang termasuk bagian portofolio adalah daftar isi dokumen, isi dokumen, bendel dokumen, batasan dokumen, dan catatan guru dan orang tua. Bahan-bahan portofolio adalah bahan yang dapat menghasilkan penilaian, baik itu secara betuk fisik ataupun tidak. Pengumpulan portofolio dapat berbentuk folder yang dapat disimpan dalam lemari atau rak. Portofolio juga mempunyai prinsip-prinsip, yaitu akurasi data, ketepatan data, kelengkapan informasi, keterbacaan dokumen, kepraktisan dokumen, perencanaan, penataan dokumen, pengadministrasian dokumen. Jika dilihat dari bentuknya portofolio dibagi menjadi dua bentuk yaitu, tinjauan proses (process oriented), dan tinjauan hasil (product oriented). Saran Didalam melakukan portofolio, pada tahap penentuan bahan yang akan dijadikan sebagai bahan portofolio, guru sebaiknya tidak menentukan secara sepihak dalam penentuan bahan-bahan tersebut, tetapi harus melibatkan peserta didik, melalui proses diskusi antara guru dengan peserta didik. Hal ini sangat penting karena, peserta didik mempunyai kesempatan untuk menyatakan kesulitan-kesulitan atau masalah yang mungkin mereka hadapi ketika mengumpulkan bahan-bahan tersebut. Namun manfaat yang paling penting adalah dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri peserta didik itu sendiri untuk menciptakan hasil seperti yang diharapkan. Selanjutnya, didalam pengumpulan evidence portofolio, ada baik jika guru memerintahkan kepada peserta didik, untuk mengumpulkan karya dari setiap peserta didik di rumah masing-masing, tujuan nya adalah untuk antisipasi, apabila suatu saat dibutuhkan ketika dokumentasi guru mengalami masalah, maka peserta didik mempunyai cadangannya. Selain itu tujuannya untuk sebagai pacuan bagi peserta didik itu sendiri supaya dapat menilai dirinya sendiri. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara, 2013. Asrori, Imam. Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab. Malang : Misykat, 2012. Fajar, Amie. Portofolio dalam pembelajaran IPS. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004. Kunandar. Penilaian Autentik (penilaian hasil belajar peserta didik berdasarkan kurikulum 2013). Jakarta : Raja wali Pers, 2013. Mulyadi, E. Evaluasi Pendidikan. Malang : UIN-Maliki Press, 2010. Rizema Putra, Sitiatava. Desain evaluasi belajar berbasis kinerja. Yogyakarta : Diva Press, 2013. Surapranata, Sumarna dan Muhammad Hatta. Penilaian Portofolio implementasi kurikulum 2004. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2006. [1]Arnie Fajar, Portofolio dalam pembelajaran IPS, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 47. [2]Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2013), Cet.2, hlm. 254. [3] Mulyadi, Evaluasi Pendidikan, (Malang : UIN-Maliki Press, 2010), hlm. 101. [4]Imam Asrori,dkk, Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang : Misykat, 2012), hlm. 162. [5]Sumarna Surapranata, dan Muhammad Hatta, Penilaian Portofolio implementasi kurikulum 2004, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2006), Cet.3, hlm. 30-38. [6]Sitiatava Rizema Putra, Desain evaluasi belajar berbasis kinerja, (Yogyakarta : Diva Press, 2013), cet.I, hlm. 69-70. [7]Kunandar, Penilaian Autentik (penilaian hasil belajar peserta didik berdasarkan kurikulum 2013), (Jakarta : Raja wali Pers, 2013),cet.2, hlm. 287. [8]Sumarna Surapranata, dan Muhammad Hatta, Op.Cit, hlm. 39. [9]Ibid., hlm. 41. [10]Ibid., hlm. 42-45. [11]Kunandar, Op.Cit, hlm. 289-290. [12]Sitiatava Rizema Putra, Op.Cit, hlm. 58-59. [13]Imam Asrori,dkk, Op.Cit, hlm. 163. [14]Sitiatava Rizema Putra, Loc.Cit, hlm. 59. [15] Sumarna Surapranata, dan Muhammad Hatta, Op.Cit, hlm. 62.
Read more...

Rabu, 21 Mei 2014

Metode An Nahdiyyah

1 komentar
Metode Annahdliyah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dan kemungkinan perkembangan tersebut masih akan terus berlanjut seiring dengan perkembangan manusia. Apalagi pada masa era globalisasi dunia semacam ini yang kita alami sekarang. Situasi dan kondisi semacam ini sering kali membawa perubahan terhadap pola pikir manusia terutama bagi mereka yang dangkal dalam pemahaman agamanya terhadap agama, akibatnya nilai – nilai kehidupan terutama nilai moral agama makin terabaikan oleh masyarakat. Kebanyakan mereka mencurahkan segala daya dan upaya untuk mencapai kemajuan ilmu dan teknologi sebagai wahana untuk mencukupi kebutuhan meteri kehidupannya, sementara mereka lupa pada pembinaan kepribadian manusia, sehingga mereka kehilangan pegangan batin walaupun kekayaan materi berlimpah ruah. Yang lebih tragis lagi adalah dikalangan generasi muda banyak timbul kegoncangan dan kegelisahan rohani. Oleh karena itu harus dicari jalan keluarnya, slah satunya terhadap anak – anak yang masih bersih dan mudah dibentuk. Pendidikan yang menanamkan keimanan dan ketaqwaan yang berintikan pada ajaran Al-Qur’an. Sebab dengan inilah generasi muda dapat diselamatkan. Dan jika berpedoman kepada Al-Qur’an adalah merupakan obat yang mujarab untuk menyembuhkan penyakit moral yang telah melanda masyarakat, terutama generasi muda saat ini. Oleh karena itu hampir semua orang tua muslim merasa mempunyai tanggung jawab besar kepada anak untuk memberikan keterampilan dalam membaca al-Qur’an. Dengan adanya tanggung jawab inilah, banyak orang tua yang memasukkan anaknya kelembaga yang di dalamnya mengajarkan keterampilan membaca al-Qur’an, syaitu di lembaga – lembaga pendidikan keagamaan non formal seperti TPQ, lembaga diniyah serta musola dan masjid – masjid. Untuk itu dalam makalah ini kami akan membahas tentang salah satu metode pembelajaran Al-Qur’an kontemporer yaitu AN Nahdliyah (An Nahdiyyah), secara ringkas, yang akan dibatasi dengan rumusan masalah berikut. B. Rumusan Masalah 1. Apakah penegrtian secara Istilah An Nahdliyah tersebut ? 2. Bagaimana penjelasan/deskripsi metode An Nahdliyah ? 3. Siapakah yang menciptakan metode An Nahdliyah ? Bagaimana biaografinya ? 4. Apakah kelebihan dan kekurangan metode An Nahdliyah ? 5. Bagaimana langkah-langkah metode An Nahdliyah ? 6. Bagaimanakah Cara pengaplikasian metode An Nahdliyah ? C. Tujuan 1. Dapat mengetahui penegrtia secara Istilah metode An Nahdliyah 2. Dapat mengetahui deskripsi metode An Nahdliyah 3. Dapat mengetahui pencipta metode An Nahdliyah, dan menegtahui biografinya 4. Dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan metode An Nahdliyah 5. Dapat mengetahui langkah-langkah metode An Nahdliyah 6. Dapat mengetahui pengaplikasian metode An Nahdliyah BAB II PEMBAHASAN METODE AN NAHDLIYAH (AN NAHDIYYAH) A. Pengertian Metode Ditinjau dari segi etimologi, Methode berasal dari bahasa Yunani, yaituMethodos. Kata ini terdiri dari dua suku kata, yaitu ‘‘metha’’ yang berarti melalui atau melewati, dan ‘’hodos’’ yang berarti jalan atau cara. Maka methode memiliki arti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan term method dan way yang diterjemahkan dengan metode dan cara. Sedangkan dalam bahasa Arab , kata metode diungkapkan dalam berbagai kata seperti al-thariqah, al – manhaj, dan al – wasilah.. Al – thariqah berarti jalan, al – Manhaj berarti sistem sedangkan al – Wasilah berarti mediator atau perantara. Dengan demikian, kata Arab yang paling dekat dengan arti methode adalaha Al- thariqah. Sedangkan methode ditinjau dari segi termonolgi ( istilah ) adalah “jalan yang ditempuh oleh seseorang supaya sampai pada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan atau perniagaan maupun dalam kaitan ilmu pengetahuan dan lainnya”. B. Pengertian Istilah An Nahdliyah Metode An – Nahdliyah adalah salah satu metode membaca Al-Qur’an yang muncul di Kabupaten Tulungagung , Propinsi Jawa Timur. Metode ini disusun oleh sebuah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Cabang Tulungagung. Ditinjau dari segi arti, An-Nahdliyah adalah sebuah kebangkitan. Istilah ini digunakan untuk sebuah metode cepat tanggap membaca Al-Qur’an yang dikemas secara berjenjang satu sampai enam jilid. Istilah Cepat Tanggap Belajar Al-Quran An-Nahdliyah dikarenakan memang metodeloginya menggunakan sistem klasikal penuh. Cara belajar dengan menggunakan hitungan ketukan stik secara berirama. Lahirnya metode ini didasari oleh beberapa pertimbangan, diantaranya : (1) kebutuhan terhadap metode yang cepat dapat diserap oleh anak dalam belajar membaca al-Qur’an sangat dibutuhkan karena padatnya kegiatan yang dimiliki oleh hampir setiap anak yang sedang menempuh jenjang pendidikan sekolah formal. (2) Kebututuhan terhadap pola pembelajaran yang berciri khas Nahdliyin dengan menggabungkan nilai salaf dan metode pembelajaran modern. (3) Pembelajaran di TPQ terkait dengan pembelajaran pasca TPQ (Madrasah Diniyah) sehingga keberhasilan di TPQ akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan di Madrasah Diniyah serta pemahaman ilmu-ilmu agama yang lebih luas. Dalam proses belajar mengajar An-Nahdliyah ada beberapa istilah, yaitu guru tutor, guru yang menyampaikan materi (guru yang paling fasih dan paling bagus di antara guru yang lain) dengan ciri khasnya stik (tongkat) sebagai panduan titian murottal sebagai ganti harkat (isyarat gerakan jari). Guru privat bertugas membina, mengevaluasi, dan memberi prestasi kepada santri. Syarat untuk bisa mengajar An-Nahdliyah di antaranya bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, mempunyai loyalitas yang tinggi, dan sudah pernah mengikuti training. C. Penjelasan/Deskripsi Metode An Nahdliyah Metode ini merupakan metode pengembangan dari metode Al-Baghdadi maka materi pembelajaran Al-Qur’an tidak jauh berbeda dengan metode Qiraati dan Iqra. Dan perlu diketahui bahwa pembelajaran metode ini lebih ditekankan pada kesesuaian dan keteraturan bacaan dengan ketukan atau lebih tepatnya pembelajaran Al-Qur’an pada metode ini lebih menekankan pada kode “Ketukan”. Dalam metode ini buku paketnya tidak dijual bebas bagi yang ingin menggunakannya atau ingin menjadi guru pada metode ini harus sudah mengikuti penataran calon guru metode An-Nahdliyah. Metode ini di kembangkan dengan maksud agar : 1. Tumbuh sikap kebangkitan kembali untuk belajar dan mengajar Al-Qur’an 2. Tumbuh sikap cepat dan tanggap dalam belajar dan mengajar Al-Qur’an. Adapun ciri khusus metode ini adalah : 1) Materi pelajaran disusun secara berjenjang dalam buku paket 6 Jilid. 2) Pengenalan huruf sekaligus diawali dengan latihan dan pemantaban makhorijul huruf dan sifatul huruf. 3) Penerapan qoidah tajwid dilaksanakan secara praktis dan dipandu dengan titian murotal, 4) Santri lebih dituntut memiliki pengertian yang dipandu dengan asas CBSA melalui pendekatan ketrampilan proses. 5) Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara klasikal untuk tutoria dengan materi yang sama agar terjadi proses musafahah 6) Evaluasi dilaksanakan secara kontinyu dan berkelanjutan 7) Metode Ini merupakan pengembangan dari Qoidah Baghdadiyah D. Biografi Penyusun Berbicara tentang An Nahdliyah tentunya tidak akan lepas dari tokoh sentral berdirinya metode tersebut yakni KH. Munawwir Kholid. An nahdliyah lahir karena keprihatinan Kiai Munawwir melihat anak-anak kecil termasuk putra-putri kiai yang mengaji di surau-surau. Mereka belajar menggunakan metode yang bukan berasal dari kultur pesantren. Hal ini bila diteruskan, maka akan menggeser sistem berpikir mereka. Berangkat dari hal tersebut, akhirnya timbullah niat dalam hati Kiai Munawwir Kholid untuk menciptakan suatu metode cepat belajar al qur’an yang bercirikan ke-Nahdlotul Ulama (NU)an. Lembaga Pendidikan Ma’arif NU merupakan Badan Otonomi NU yang menangani bidang pendidikan, baik pendidikan formal maupun non-formal. Termasuk pendidikan formal adalah MI/SD, MTs , MA/SMA yang bernaung di bawah panji NU. Adapun pendidikan non-formal meliputi TPQ, Madrasah Diniyah, dan Pondok Pesantren. Namun, berkat kegigihan Kiai Munawwir, akhirnya dalam waktu yang relatif panjang, terbentuklah Metode An Nahdliyah. Dalam perjalanannya, An Nahdliyah sempat ber’metamorfosis’(berubah/berganti nama) sebanyak tiga kali, yaitu : pertama : bernama Metode Cepat Baca Al Qur’an Ma’arif (format disusun PCNU Tulungagung pada tahun 1985). Kedua, Metode Cepat Baca Al Qur’an Ma’arif Qiroati (dengan meminta izin muallif qiro’ati untuk dicetak). Dan ketiga, Metode Cepat Baca Al Qur’an Ma’arif An Nahdliyah (mulai dicetak pada tahun 1991). Adapun tempat yang sering digunakan untuk membahas format dan perkembangan metode An Nahdliyah adalah musholla lembaga ma’arif Tulungagung. Sebelum metode ini bernama An Nahdliyah, pada suatu ketika atas petunjuk setelah bermunajat kepada Allah SWT. Kiai Munawwir Kholid berjalan ke arah utara yang pada akhirnya beliau bertemu dengan Kiai Syamsu Dluha. Dari pertemuan itu, terjalinlah ikatan persaudaraan yang kuat diantara keduanya yang pada akhirnya menghasilkan beberapa materi rumusan-rumusan yang menjadi bahan penyusunan kitab Metode Cepat Tanggap Belajar Al Qur’an An Nahdliyah. Dengan dibantu oleh Kiai Syamsu Dluha dan kiai-kiai yang lain akhirnya Kiai Munawir Kholid menggagas untuk membuat metode baru. Beliau bersama sahabat–sahabat beliau membentuk team perumus yang beranggotakan antara lain: 1. Kyai Munawir Kholid 2. Kyai Manaf 3. Kyai Mu’in Arif 4. Kyai Hamim 5. Kyai Masruhan 6. Kyai Syamsu Dluha E. Kelebihan dan Kekurangan Metode An Nahdliyah Kelebihan yang terdapat dalam metode An Nahdliyah antarab lain adalah : 1. Mudah dipahami oleh anak-anak., karena dalam metode ini anak-anak diajak untuk melagukan saat belajar Al-Qur’an, sehingga dapat diterima oleh otak anak maupun orang dewasa pada umunya. 2. Semua santri yang belajar lebih cepat tanggap, konsentrasi, dan mudah dikendalikan, juga menyenangkan. 3. Melatih hubungan sosial, kerjasama, dan kekompakkan anak atau peserta metode An Nahdliyah, karen dalam proses pembelajran ini dituntun secara bersama-sama untuk mengikuti ucapan guru, dan instrument yang digunakan oleh guru tersebut. Selain mempunyai kelebihan, metode inipun mempunyai kelemahannya antara lain sebagai berikut : 1. Dengan metode ini, guru memberi contoh, santri mendengarkan lalu menirukan, sehingga terkesan lebih aktif guru dari pada santrinya. 2. Tidak semua orang bisa mengajarkan/memakai metode ini, karena hanya untu orang yang mempunyai persyaratan bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, mempunyai loyalitas yang tinggi, dan sudah pernah mengikuti training. 3. Didalam metode ini harus memakai waktu yang lama, karena mempunyai jilid yang banyak, setelah selesai 6 jilid tersebut harus melanjutkan ke tingkat selanjutnya. 4. Santri tidak bisa berkreasi sendiri dengan cara yang ia suka, karena harus mengikuti peraturan dan tata cara yang sudah ada F. Langkah-langkah Metode An Nadliyah Dalam pelaksanaan metode ini mempunyai dua program yang harus diselesaikan oleh para santri yaitu : 1. Program buku paket Program buku paket ( PBP ) , program awal yang dipandu dengan buku paket Cepat Tanggap Belajar Al-Qur'an An Nahdilyah sebanyak enam jilid yan dapat ditempuh kurang lebih enam bulan. 2. Program Sorogan Al-Qur'an PSQ , yaitu program lanjutan sebagai aplikasi praktis untuk menghantar santri mampu membaca Al-Qur’an sampai khatam 30 juz. Pada program ini santri dibekali dengan sistem bacaan ghoroibul. Qur’an tartil, tahqiq dan taghonni . Untuk menyelesaikan program ini diperlukan waktu kurang lebih 20 bulan. Dalam program sorogan Al-Qur’an ini santri akan diajarkan bagaimana cara-cara membaca Al-Qur’an yang sesuai dengan sistem bacaan dalam membaca Al-Qur’an. Dimana santri langsung praktek membaca Al-Qur’an besar. Selain itu peserta metode ini diberi tip bagaimana belajar dan mengajarkan metode an-nahdliyah, diantanya: 1) Lobi suara atau guru memberi contoh, santri mendengarkan baru menirukan. 2) Pembenahan makhrojul huruf dan sifatul huruf. 3) Menunjukkan fakta huruf. 4) Dituliskan 11 x baru dibaca berulang-ulang G. Aplikasi Metode An Nahdliyah Didalam metode An Nahdliyah terdapat enam (6) jilid pada buku paketnya, isi secara garis besar ke-enam jilid buku paket tersebut adalah : Jilid 1 Pengenalan huruf hijaiyah berharakat fathah. Jilid 2 Huruf hijaiyah bersambung, harakat dhamah dan kasrah, mad thabi'i, harakat ganda Jilid 3 Ta marbuthah, mad thabi'i, alif fariqah, ihfa', hamzah washal Jilid 4 Idzhar qamariah, ra tafkhim, Idzhar syafawi, Idzhar halqi, Mad wajib mutashil, Mad shilah thawilah, Mad jaiz munfashil Jilid 5 Ghunnah, Idhgham bighunnah, Idhgham bilaghunnah, Iqlab, Idhgham Mutamatsilain, Ihfa' syafawi, Lam jalalah (tafkhim-tarqiq) Jilid 6 Idhgham syamsiyah, Qalqalah, Idzhar bikilmah, Mad lazim mutsaqal kilmi, Mad lazim mukhafaf kilmi, Mad iwadh, Mad lazim mutsaqal harfi, Mad lazim mukhafaf harfi, Tanda-tanda waqaf, Surat-surat pendek, Surat Al-Baqarah ayat 1 - 20 Didalam pengaplikasiannya dalam metode An Nahdliyah yang perlu di lakukan adalah tindakan sebagai berikut : 1. Awalnya guru menulis ayat-ayat pendek di papan tulis. 2. Setelah itu guru membacakannya dan siswa menirukannya dengan diiringi titian murotal. 3. Untuk mengetes santrinya sekali-kali guru menunjuk salah satu santri untuk membaca tulisan yang ada di papan tulis untuk mengetahui tingkat kompetensi tilawahnya dengan melihat kemampuan makhrojul huruf dan kaidah tajwidnya. Titian murotal ini juga menjadi ciri khas metode ini yaitu ketukan untuk menandai panjang dan pendeknya bunyi. Berikut adalah gambar buku paket An nahdliyah dari jilid 1 sampai jilid 6. BAB III PENUTUP KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari pembahasan makalah tentang metode An Nahdliyah (An Nahdhiyah) dapat kami simpulkan bahwa An-Nahdliyah adalah sebuah kebangkitan. Istilah ini digunakan untuk sebuah metode cepat tanggap membaca Al-Qur’an yang dikemas secara berjenjang satu sampai enam jilid. Metode membaca Al-Qur’an yang muncul di Kabupaten Tulungagung, Propinsi Jawa Timur. Metode ini disusun oleh sebuah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Cabang Tulungagung. Pembelajaran metode ini lebih ditekankan pada kesesuaian dan keteraturan bacaan dengan ketukan atau lebih tepatnya pembelajaran Al-Qur’an pada metode ini lebih menekankan pada kode “Ketukan”. Tokoh sentral pendirinya metode tersebut yakni KH. Munawwir Kholid. Selain tokoh sentarl tersebut, ada lagi tokoh yang menciptakan metode tersebut yaitu Kyai Manaf ,Kyai Mu’in Arif, Kyai Hamim, Kyai Masruhan, Kyai Syamsu Dluha. Dalam pelaksanaan metode ini mempunyai dua program yang harus diselesaikan oleh para santri yaitu : 1. Program buku paket Program buku paket ( PBP ) , program awal yang dipandu dengan buku paket Cepat Tanggap Belajar Al-Qur'an An Nahdilyah sebanyak enam jilid yan dapat ditempuh kurang lebih enam bulan. 2. Program Sorogan Al-Qur'an PSQ , yaitu program lanjutan sebagai aplikasi praktis untuk menghantar santri mampu membaca Al-Qur’an sampai khatam 30 juz. Pada program ini santri dibekali dengan sistem bacaan ghoroibul. B. Saran Sebagai calon guru, kita harus mengetahui metode mana yang lebih efektif digunakan dalam pembelajaran, dalam hal ini khususnya didalam pembelajaran membaca Al-Qur’an. Kita harus pandai dalam menentukan metode, karena jika salah atau tidak sesuai dalam menggunakan metode, bisa jadi apa yang Seorang guru harapkan untuk dicapai siswa/santrinya tidak akan tercapai. Jika kita berperan sebagai orang tua, tugas pokok kita adalah selalu membimbing anak-anak supaya termotivasi, dan menumbuhkan minat mereka terhadap baca tulis Al-Qur’an.
Read more...

Rabu, 07 Mei 2014

Metode An Nahdiyyah

1 komentar


 <HTML>
<HEAD><TITLE>Mrtode Pembelajaran Al-Qur'an Kontemporer</TITLE>
</HEAD>
<BODY>
<Img src ="https://www.facebook.com/photo.php?fbid=659662230757105&set=pb.100001400034846.-2207520000.1399523860.&type=3&src=https%3A%2F%2Ffbcdn-sphotos-a-a.akamaihd.net%2Fhphotos-ak-prn1%2Ft1.0-9%2F1016574_659662230757105_36960137_n.jpg&size=256%2C126"Height="100"Width="100">
 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dan kemungkinan perkembangan tersebut masih akan terus berlanjut seiring dengan perkembangan manusia. Apalagi pada masa era globalisasi dunia semacam ini yang kita alami sekarang. Situasi dan kondisi semacam ini sering kali membawa perubahan terhadap pola pikir manusia terutama bagi mereka yang dangkal dalam pemahaman agamanya terhadap agama, akibatnya nilai – nilai kehidupan terutama nilai moral agama makin terabaikan oleh masyarakat. Kebanyakan mereka mencurahkan segala daya dan upaya untuk mencapai kemajuan ilmu dan teknologi sebagai wahana untuk mencukupi kebutuhan meteri kehidupannya, sementara mereka lupa pada pembinaan kepribadian manusia, sehingga mereka kehilangan pegangan batin walaupun kekayaan materi berlimpah ruah. Yang lebih tragis lagi adalah dikalangan generasi muda banyak timbul kegoncangan dan kegelisahan rohani.
Oleh karena itu harus dicari jalan keluarnya, slah satunya terhadap anak – anak yang masih bersih dan mudah dibentuk. Pendidikan yang menanamkan keimanan dan ketaqwaan yang berintikan pada ajaran Al-Qur’an. Sebab dengan inilah generasi muda dapat diselamatkan. Dan jika berpedoman kepada Al-Qur’an adalah merupakan obat yang mujarab untuk menyembuhkan penyakit moral yang telah melanda masyarakat, terutama generasi muda saat ini.
Oleh karena itu hampir semua orang tua muslim merasa mempunyai tanggung jawab besar kepada anak untuk memberikan keterampilan dalam membaca al-Qur’an. Dengan adanya tanggung jawab inilah, banyak orang tua yang memasukkan anaknya kelembaga yang di dalamnya mengajarkan keterampilan membaca al-Qur’an, syaitu di lembaga – lembaga pendidikan keagamaan non formal seperti TPQ, lembaga diniyah serta  musola dan masjid – masjid. Untuk itu dalam makalah ini kami akan membahas tentang salah satu metode pembelajaran Al-Qur’an kontemporer yaitu AN Nahdliyah (An Nahdiyyah), secara ringkas, yang akan dibatasi dengan rumusan masalah berikut.



B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah penegrtian secara Istilah An Nahdliyah tersebut ?
2.      Bagaimana penjelasan/deskripsi metode An Nahdliyah ?
3.      Siapakah yang menciptakan metode An Nahdliyah ? Bagaimana biaografinya ?
4.      Apakah kelebihan dan kekurangan metode An Nahdliyah ?
5.      Bagaimana langkah-langkah metode An Nahdliyah ?
6.      Bagaimanakah Cara pengaplikasian metode An Nahdliyah ?


C.    Tujuan
1.      Dapat mengetahui penegrtia secara Istilah metode An Nahdliyah
2.      Dapat mengetahui deskripsi metode An Nahdliyah
3.      Dapat mengetahui pencipta metode An Nahdliyah, dan menegtahui biografinya
4.      Dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan metode An Nahdliyah
5.      Dapat mengetahui langkah-langkah metode An Nahdliyah
6.      Dapat mengetahui pengaplikasian metode An Nahdliyah





BAB II
PEMBAHASAN
METODE AN NAHDLIYAH (AN NAHDIYYAH)
  1. Pengertian Metode
Ditinjau dari segi etimologi, Methode berasal dari bahasa Yunani, yaituMethodos. Kata ini terdiri dari dua suku kata, yaitu ‘‘metha’’ yang berarti melalui atau melewati, dan ‘’hodos’’  yang berarti jalan atau cara. Maka methode memiliki arti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan term method dan way yang diterjemahkan dengan metode dan cara. Sedangkan dalam bahasa Arab , kata metode diungkapkan dalam berbagai kata seperti al-thariqah, al – manhaj, dan al – wasilah.. Al – thariqah berarti jalan, al – Manhaj berarti sistem sedangkan al – Wasilah berarti mediator atau perantara. Dengan demikian, kata Arab yang paling dekat dengan arti methode adalaha Al- thariqah. Sedangkan methode ditinjau dari segi termonolgi ( istilah )  adalah “jalan yang ditempuh oleh seseorang supaya sampai pada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan atau perniagaan maupun dalam kaitan ilmu pengetahuan dan lainnya”.[1]

B.     Pengertian Istilah An Nahdliyah
       Metode An – Nahdliyah adalah salah satu metode membaca Al-Qur’an yang muncul di Kabupaten  Tulungagung , Propinsi Jawa Timur. Metode ini disusun oleh sebuah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Cabang Tulungagung.
Ditinjau dari segi arti, An-Nahdliyah adalah sebuah kebangkitan. Istilah ini digunakan untuk sebuah metode cepat tanggap membaca Al-Qur’an yang dikemas secara berjenjang satu sampai enam jilid. Istilah Cepat Tanggap Belajar Al-Quran An-Nahdliyah dikarenakan memang metodeloginya menggunakan sistem klasikal penuh. Cara belajar dengan menggunakan hitungan ketukan stik secara berirama.[2]
Lahirnya metode ini didasari oleh beberapa pertimbangan, diantaranya :
(1)    kebutuhan terhadap metode yang cepat dapat diserap oleh anak dalam belajar membaca al-Qur’an sangat dibutuhkan karena padatnya kegiatan yang dimiliki oleh hampir setiap anak yang sedang menempuh jenjang pendidikan sekolah formal.
(2)   Kebututuhan terhadap pola pembelajaran yang berciri khas Nahdliyin dengan menggabungkan nilai salaf dan metode pembelajaran modern.
(3)   Pembelajaran di TPQ terkait dengan pembelajaran pasca TPQ (Madrasah Diniyah) sehingga keberhasilan di TPQ akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan di Madrasah Diniyah serta pemahaman ilmu-ilmu agama yang lebih luas.

Dalam proses belajar mengajar An-Nahdliyah ada beberapa istilah, yaitu guru tutor, guru yang menyampaikan materi (guru yang paling fasih dan paling bagus di antara guru yang lain) dengan ciri khasnya stik (tongkat) sebagai panduan titian murottal sebagai ganti harkat (isyarat gerakan jari). Guru privat bertugas membina, mengevaluasi, dan memberi prestasi kepada santri. Syarat untuk bisa mengajar An-Nahdliyah di antaranya bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, mempunyai loyalitas yang tinggi, dan sudah pernah mengikuti training.


C.    Penjelasan/Deskripsi Metode An Nahdliyah
Metode ini merupakan metode pengembangan dari metode Al-Baghdadi maka materi pembelajaran Al-Qur’an tidak jauh berbeda dengan metode Qiraati dan Iqra. Dan perlu diketahui bahwa pembelajaran metode ini lebih ditekankan pada kesesuaian dan keteraturan bacaan dengan ketukan atau lebih tepatnya pembelajaran Al-Qur’an pada metode ini lebih menekankan pada kode “Ketukan”. Dalam metode ini buku paketnya tidak dijual bebas bagi yang ingin menggunakannya atau ingin menjadi guru pada metode ini harus sudah mengikuti penataran calon guru metode An-Nahdliyah.[3]
Metode ini di kembangkan dengan maksud agar :
1.      Tumbuh sikap kebangkitan kembali untuk belajar dan mengajar Al-Qur’an
2.      Tumbuh sikap cepat dan tanggap dalam belajar dan mengajar Al-Qur’an.[4]

Adapun ciri khusus metode ini adalah :
1)      Materi pelajaran disusun secara berjenjang dalam buku paket 6 Jilid.
2)      Pengenalan huruf sekaligus diawali dengan latihan dan pemantaban makhorijul huruf dan sifatul huruf.
3)      Penerapan qoidah tajwid dilaksanakan secara praktis dan dipandu dengan  titian  murotal,
4)      Santri lebih dituntut memiliki pengertian yang dipandu dengan asas CBSA melalui pendekatan ketrampilan proses.
5)      Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara klasikal untuk  tutoria  dengan   materi yang sama agar terjadi proses musafahah
6)      Evaluasi dilaksanakan secara kontinyu dan berkelanjutan
7)      Metode Ini merupakan pengembangan dari Qoidah Baghdadiyah[5]


D.    Biografi Penyusun
Berbicara tentang An Nahdliyah tentunya tidak akan lepas dari tokoh sentral berdirinya metode tersebut  yakni KH. Munawwir Kholid. An nahdliyah lahir karena keprihatinan Kiai Munawwir melihat anak-anak kecil termasuk putra-putri kiai yang mengaji di surau-surau. Mereka belajar menggunakan metode yang bukan berasal dari kultur pesantren. Hal ini bila diteruskan, maka akan menggeser sistem berpikir mereka. Berangkat dari hal tersebut, akhirnya timbullah niat dalam hati Kiai Munawwir Kholid untuk menciptakan suatu metode cepat belajar al qur’an yang  bercirikan ke-Nahdlotul Ulama (NU)an.
Lembaga Pendidikan Ma’arif NU merupakan Badan Otonomi NU yang menangani bidang pendidikan, baik pendidikan formal maupun non-formal. Termasuk pendidikan formal adalah MI/SD, MTs , MA/SMA  yang bernaung di bawah panji NU. Adapun pendidikan non-formal  meliputi TPQ, Madrasah Diniyah, dan Pondok Pesantren.
Namun, berkat kegigihan Kiai Munawwir, akhirnya dalam waktu yang relatif panjang, terbentuklah Metode An Nahdliyah. Dalam perjalanannya, An Nahdliyah sempat ber’metamorfosis’(berubah/berganti nama) sebanyak tiga kali, yaitu : pertama : bernama Metode Cepat Baca Al Qur’an Ma’arif (format disusun PCNU Tulungagung pada tahun 1985). Kedua, Metode Cepat Baca Al Qur’an Ma’arif Qiroati (dengan meminta izin muallif qiro’ati untuk dicetak). Dan ketiga, Metode Cepat Baca Al Qur’an Ma’arif An Nahdliyah (mulai dicetak pada tahun 1991). Adapun tempat yang sering digunakan untuk membahas format dan perkembangan metode An Nahdliyah adalah musholla lembaga ma’arif Tulungagung.
Sebelum metode ini bernama An Nahdliyah, pada suatu ketika atas petunjuk setelah bermunajat kepada Allah SWT. Kiai Munawwir Kholid berjalan ke arah utara yang pada akhirnya beliau bertemu dengan Kiai Syamsu Dluha. Dari pertemuan itu,  terjalinlah ikatan persaudaraan yang kuat diantara keduanya yang pada akhirnya  menghasilkan beberapa materi rumusan-rumusan yang menjadi bahan penyusunan kitab Metode Cepat Tanggap Belajar Al Qur’an An Nahdliyah. Dengan dibantu oleh Kiai Syamsu Dluha dan kiai-kiai yang lain akhirnya Kiai Munawir Kholid menggagas untuk membuat metode baru. Beliau bersama sahabat–sahabat beliau membentuk team perumus yang beranggotakan  antara lain:
1.       Kyai Munawir Kholid
2.       Kyai Manaf
3.       Kyai Mu’in Arif
4.       Kyai Hamim
5.       Kyai Masruhan
6.       Kyai Syamsu Dluha[6]

E.     Kelebihan dan Kekurangan Metode An Nahdliyah
Kelebihan yang terdapat dalam metode An Nahdliyah antarab lain adalah :
1.      Mudah dipahami oleh anak-anak., karena dalam metode ini anak-anak diajak untuk melagukan saat belajar Al-Qur’an, sehingga dapat diterima oleh otak anak maupun orang dewasa pada umunya.
2.      Semua santri yang belajar lebih cepat tanggap, konsentrasi, dan mudah dikendalikan, juga menyenangkan.
3.      Melatih hubungan sosial, kerjasama, dan kekompakkan anak atau peserta metode An Nahdliyah, karen dalam proses pembelajran ini dituntun secara bersama-sama untuk mengikuti ucapan guru, dan instrument yang digunakan oleh guru tersebut.

Selain mempunyai kelebihan, metode inipun mempunyai kelemahannya antara lain sebagai berikut :
  1. Dengan metode ini, guru memberi contoh, santri mendengarkan lalu menirukan, sehingga terkesan lebih aktif guru dari pada santrinya.
  2. Tidak semua orang bisa mengajarkan/memakai metode ini, karena hanya untu orang yang mempunyai persyaratan bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, mempunyai loyalitas yang tinggi, dan sudah pernah mengikuti training.
3.      Didalam metode ini harus memakai waktu yang lama, karena mempunyai jilid yang banyak, setelah selesai 6 jilid tersebut harus melanjutkan ke tingkat selanjutnya.
  1. Santri tidak bisa berkreasi sendiri dengan cara yang ia suka, karena harus mengikuti peraturan dan tata cara yang sudah ada


F.     Langkah-langkah Metode An Nadliyah
Dalam pelaksanaan metode ini mempunyai dua program yang harus diselesaikan oleh para santri yaitu :
1.      Program buku paket
Program buku paket ( PBP ) , program awal yang dipandu dengan buku paket Cepat Tanggap Belajar Al-Qur'an An Nahdilyah sebanyak enam jilid yan dapat ditempuh kurang lebih enam bulan.
2.      Program Sorogan Al-Qur'an
PSQ , yaitu program lanjutan sebagai aplikasi praktis untuk menghantar santri mampu membaca Al-Quran sampai khatam 30 juz. Pada program ini santri dibekali dengan sistem bacaan ghoroibul. Qur’an tartil, tahqiq dan taghonni . Untuk menyelesaikan program ini diperlukan waktu  kurang lebih 20   bulan. Dalam program sorogan Al-Qur’an ini santri akan diajarkan bagaimana cara-cara membaca Al-Qur’an yang sesuai dengan sistem bacaan dalam membaca Al-Qur’an. Dimana santri langsung praktek membaca Al-Qur’an besar.
Selain itu peserta metode ini diberi tip bagaimana belajar dan mengajarkan metode an-nahdliyah, diantanya:
1)      Lobi suara atau guru memberi contoh, santri mendengarkan baru menirukan.
2)      Pembenahan makhrojul huruf dan sifatul huruf.
3)      Menunjukkan fakta huruf.
4)      Dituliskan 11 x baru dibaca berulang-ulang

  1. Aplikasi Metode An Nahdliyah
Didalam metode An Nahdliyah terdapat enam (6) jilid pada buku paketnya, isi secara garis besar ke-enam jilid buku paket tersebut adalah :

Jilid 1              Pengenalan huruf hijaiyah berharakat fathah.

Jilid 2              Huruf hijaiyah bersambung, harakat dhamah dan kasrah, mad                                  thabi'i, harakat ganda
Jilid 3              Ta marbuthah, mad thabi'i, alif fariqah, ihfa', hamzah washal

Jilid 4              Idzhar qamariah, ra tafkhim, Idzhar syafawi, Idzhar halqi, Mad                               wajib mutashil, Mad shilah thawilah, Mad jaiz munfashil

Jilid 5              Ghunnah, Idhgham bighunnah, Idhgham bilaghunnah, Iqlab, Idhgham Mutamatsilain, Ihfa' syafawi, Lam jalalah (tafkhim-tarqiq)
Jilid 6              Idhgham syamsiyah, Qalqalah, Idzhar bikilmah, Mad lazim mutsaqal kilmi, Mad lazim mukhafaf kilmi, Mad iwadh, Mad lazim mutsaqal harfi, Mad lazim mukhafaf harfi, Tanda-tanda waqaf, Surat-surat pendek, Surat Al-Baqarah ayat 1 - 20
Didalam pengaplikasiannya dalam metode An Nahdliyah yang perlu di lakukan adalah tindakan sebagai berikut :
1.      Awalnya guru menulis ayat-ayat pendek di papan tulis.
2.      Setelah itu guru membacakannya dan siswa menirukannya dengan diiringi titian murotal.
3.      Untuk mengetes santrinya sekali-kali guru menunjuk salah satu santri untuk membaca tulisan yang ada di papan tulis untuk mengetahui tingkat kompetensi tilawahnya dengan melihat kemampuan makhrojul huruf dan kaidah tajwidnya. Titian murotal ini juga menjadi ciri khas metode ini yaitu ketukan untuk menandai panjang dan pendeknya bunyi.

Berikut adalah gambar buku paket An nahdliyah dari jilid 1 sampai jilid 6.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1AY4OchgpE8pb5dudsB-zoUndw93mmbH9FQQiXZkm6Qh6K32ELaEVUD5Luqwl30lFj0QEoWsvlg1Xy8SoiDGIihu-l0zS7gYuFfFCFymZIBqxz5_E0ZkIRc1s7FZ0QnCtxXd84vUt4v_h/s320/AN-NAHDLIYAH_a.png





https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjsSZiM-OlxEoH6v2tKe_sRb9HwTJJqDfrpL1z6_fM0JVxN6sJrGQlPOiv1bCXarJFisRcbf_MUkusmTmYbuwHvOG6GPc7VAiK2_Om946d-8Kj15WLxzTenE7q8PMnhaAjb3tiYTOp820g0/s320/AN-NAHDLIYAH_b.png 






BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan
Dari pembahasan makalah tentang metode An Nahdliyah (An Nahdhiyah) dapat kami simpulkan bahwa An-Nahdliyah adalah sebuah kebangkitan. Istilah ini digunakan untuk sebuah metode cepat tanggap membaca Al-Qur’an yang dikemas secara berjenjang satu sampai enam jilid.
Metode membaca Al-Qur’an yang muncul di Kabupaten  Tulungagung, Propinsi Jawa Timur. Metode ini disusun oleh sebuah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Cabang Tulungagung. Pembelajaran metode ini lebih ditekankan pada kesesuaian dan keteraturan bacaan dengan ketukan atau lebih tepatnya pembelajaran Al-Qur’an pada metode ini lebih menekankan pada kode “Ketukan”. Tokoh sentral pendirinya metode tersebut  yakni KH. Munawwir Kholid. Selain tokoh sentarl tersebut, ada lagi tokoh yang menciptakan metode tersebut yaitu Kyai Manaf ,Kyai Mu’in Arif, Kyai Hamim, Kyai Masruhan,  Kyai Syamsu Dluha.
Dalam pelaksanaan metode ini mempunyai dua program yang harus diselesaikan oleh para santri yaitu :
1.      Program buku paket
Program buku paket ( PBP ) , program awal yang dipandu dengan buku paket Cepat Tanggap Belajar Al-Qur'an An Nahdilyah sebanyak enam jilid yan dapat ditempuh kurang lebih enam bulan.

2.      Program Sorogan Al-Qur'an
PSQ , yaitu program lanjutan sebagai aplikasi praktis untuk menghantar santri mampu membaca Al-Quran sampai khatam 30 juz. Pada program ini santri dibekali dengan sistem bacaan ghoroibul.
B.     Saran
Sebagai calon guru, kita harus mengetahui metode mana yang lebih efektif digunakan dalam pembelajaran, dalam hal ini khususnya didalam pembelajaran membaca Al-Qur’an. Kita harus pandai dalam menentukan metode, karena jika salah atau tidak sesuai dalam menggunakan metode, bisa jadi apa yang Seorang guru harapkan untuk dicapai siswa/santrinya tidak akan tercapai.
Jika kita berperan sebagai orang tua, tugas pokok kita adalah selalu membimbing anak-anak supaya termotivasi, dan menumbuhkan minat mereka terhadap baca tulis Al-Qur’an.

</BODY>
</HTML>


[1]Ismail SM, “Strategi Pembelajaran Agama Islam berbasis PAIKEM” ( Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, ( Semarang, : Bumi Aksara,2008 ) hal.7.
[3]Maksum Farid, dkk,Cepat Tanggap Belajar Al-Qur’an An-Nahdhiyah,(Tulungagung : LP. Ma’arif ,1992),hlm. 9.
[4]Moh. Mungin Arief, Khanan Muhtar, pedoman pengelolaan taman pendidikan Al-Qu’an metode An-nahdiyah,(Tulungagung : LP. Ma’arif NU,1993),hlm.9.
[5]Ibid., hlm. 10.
[6]file:///E:/semester%204/Metode%20Pemb.%20Al-Qur%27an%20Kontemporer/ngaji/mabinannahdliyahlangitan%20_%20This%20WordPress.com%20site%20is%20the%20cat%E2%80%99s%20pajamas.htm
Read more...